Kamis, 14 Juli 2011

"BENARKAH YESUS MATI DI TIANG SALIB?"

Benarkah Yesus mati di Tiang
Salib? Sumber : Debat Kairo
Kematian Yesus di atas kayu
salib tidak terbukti secara
meyakinkan. Sebelum saya
mengemukakan peristiwa salib dan hakikatnya berdasarkan Injil,
saya ingin menyebutkan dalil-dalil
yang menunjukkan bahwa Yesus
tidak mati di kayu salib, seperti
berikut: Pertama: Taurat
mengatakan tentang pendusta yang mengaku
menjadi nabi: “Nabi atau pemimpi
itu haruslah dihukum mati,
karena ia telah mengajak murtad
terhadap TUHAN,
Allahmu….” (Ulangan 13:5). Lalu Taurat mengatakan: “Apabila
seseorang berbuat dosa…
terkutuk oleh Allah” (Ulangan
21;22,23). Almasih jelas
menyatakan dirinya seorang nabi,
sedang orang-orang Yahudi menganggapnya pendusta
(naudzubillah). Kalau, umpamanya,
kita katakan orang-orang Yahudi
menaikkannya di atas kayu salib
dan mati di atas kayu salib itu,
maka kesimpulan logisnya ialah dia memang benar mati terkutuk
di atas kayu salib (naudzubillah).
Karena itu, maka orang-orang
Kristen menganut akidah
kematian Almasih di atas kayu
salib dan mempercayainya terkutuk. Dikatakan: “Kristus
telah menebus kita dari kutuk
hukum Taurat dengan jalan
menjadi kutuk karena kita,
sebab ada tertulis; “Terkutuklah
orang yang digantung pada kayu salib!” (Galatia 3;13). Iktikad
Kristen ini salah sekali, karena
menarik kesimpulan Almasih tidak
benar (naudzubillah) dalam
pengakuannya sebagai nabi,
malahan dusta dan mengada-ada. Singkatnya, kematiannya di atas
kayu salib itu menafikan atau
membohongkan sesuai dengan
rencana orang-orang Yahudi.
Akan tetapi, Almasih itu orang
benar; oleh sebab itu akidah kematian di atas kayu salib itu
hanya hikayat belaka. Kedua:
Menurut pandangan
Kristen, kematian Yesus di atas
kayu salib itu adalah “suatu
keharusan” karena melalui cara yang aneh ini dosa mereka
tertebus. Menurut segi pandang
Injil, untuk meraih najat
(keselamatan) kematian Almasih
di atas kayu salib itu tidak
diperlukan. Almasih mengatakan: “Di dunia ini Anak Manusia
berkuasa mengampuni
dosa” (Matius 9:6). Keterangan
Almasih ini diberikan ketika dia
masih hidup. Jelas bahwa untuk
menebus dosa, kematiannya di atas kayu salib bukanlah suatu
keharusan. Ketiga: Orang Kristen
mengatakan, Yesus terbunuh
untuk menyelamatkan mereka
agar menjadi penebus dosa
mereka. Kalau tidak mati di salib berarti kabar suka dari Paulus
dan kepercayaan orang-orang
Kristen akan menjadi sia-sia.
Saya mengatakan, memang
benar Yesus tidak mati di atas
kayu salib dan dakwah Anda itu salah. Kematian di atas kayu salib
itu bertentangan dengan
kehendak Allah dan dengan misi
yang diembannya. Allah sendiri
menyatakan: “Sebab Aku
menyukai kasih setia, dan bukan korban
sembelihan, dan menyukai
pengenalan akan Allah, lebih dari
pada korban-korban
bakaran” (Hosea 6:6). Dan:
“Pergilah dan pelajarilah arti firman ini: yang kukehendaki ialah
belas kasihan dan bukan
persembahan, karena Aku
datang bukan untuk memanggil
oranng benar, melainkan orang
berdosa (Matius 9:13).” Jelas Allah mengkehendaki kasih
saying, bukan kurban, untuk
memperoleh kasih sayang-Nya
jalan satu-satunya ialah
bertobat, yang untuk itu Yesus
menyeru sepanjang hidupnya. Tidak ayal lagi kalau Yesus mati
di kayu salib, kematian demi
menebus dosa manusia adalah
berlawanan dengan kehendak
Allah dan dengan kedudukan
Yesus sendiri. Keempat: Dalam Injil Matius
dikatakan: “Jawabanya kepada
mereka:
‘Angkatan yang jahat dan tidak
setia ini menuntut suatu tanda.
Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain
tanda nabi Yunus. Sebab seperti
Yunus tinggal di dalam perut ikan
tiga hari tiga malam, demikian
juga Anak Manusia akan tinggal
di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam (Matius 12:39,40). Untuk
mengetahui apakah Nabi
Yunus tetap hidup dalam perut
ikan atau mati, bacalah kata-
kata Kitab Yunus yang
mengatakan: “Yunus tinggal di dalam perut
ikan itu tiga hari tiga malam
lamanya. Berdoalah Yunus
kepada TUHAN, Allahnya, dari
dalam perut ikan hiu” (Yunus
1:17 dan 2:1). Yesus telah memberikan contoh,
mukjizat Nabi Yunus sebagai
pegangan bagi keturunannya
dan ini jelas Yunus masuk perut
ikan dalam keadaan tetap hidup,
tinggal dalam perut ikan juga dalam keadaan hidup keluar
dalam keadaan hidup. Karenanya
Yesus juga harus dimasukkan ke
liang kubur hidup-hidup dan
dikeluarkan juga hidup-hidup.
Kalau tidak, janji Yesus dan satu- satunya mukjizatnya menjadi sia-
sia. Hanya ada dua jalan bagi
orang-orang Kristen: Mengingkari
kematian Yesus di kayu salib dan
mempercayai bahwa dia
diselamatkan dari kematian di kayu salib itu hidup-hidup, sesuai
dengan kepercayaan kami. Dalam
keadaan seperti ini nubuatan
Almasih akan genap dan akan
terbukti pula mukjizatnya. Atau,
tetap menganut akidah kematiannya di atas kayu salib
dan ini berarti mereka
membantah mukjizat tersebut.
Tetapi, perlu diingat, bahwa
menerima kepercayaan ini
berarti dia mengaitkan persamaan dengan mukjizat
Yunus. Karena itu adalah tepat
bila dikatakan bahwa Almasih
sekali-kali tidak mati di atas
kayu salib. Kelima: Ketika Yesus
mengetahui tentang kisah salib dan niat
jahat orang-orang Yahudi,
menurut Lukas: “Ia menjauhkan
diri dari mereka kira-kira
seperlempar batu jaraknya, lalu
Ia berlutut dan berdoa, kataNya: ‘Ya Bapaku, jikalau Engkau mau,
ambillah cawan ini daripadaKu;
tetapi bukanlah kehendakKu,
melainkan kehendakMulah yang
terjadi’. Maka seorang malaikat
dari langit menampakkan diri kepadaNya untuk memberi
kekuatan kepadaNya” (Lukas
22:41-43). Almasih mendoa dengan
segala
kerendahan hati agar dia
diselamatkan dari maut yang hina dan mengerikan itu. Cawan
itu adalah cawan maut. Sekarang
timbul pertanyaan: Apakah doa
Yesus ini didengar atau tidak?
Kalau didengar, kepercayaan
bahwa dia mati di atas salib berarti batal. Sebaliknya, kalau
tidak didengar berarti diragukan
apakah dia benar atau tidak,
karena dalam Kitab Amsal
dikatakan: “TUHAN itu jauh
daripada orang fasik, tetapi doa orang benar
didengarnya” (Amsal 15:29). Yang
benar ialah, Allah Taala
telah mendengar ratap
tangisnya, sesuai dengan
kebiasaan dan sunah-Nya. Almasih pasti diselamatkan dari
kematian di atas tiang salib yang
terkutuk itu. Keenam: Dalam
“Surat Kepada
Orang Ibrani” dikatakan: “Ia
telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap
tangis dan keluhan kepada Dia,
yang sanggup
menyelamatkanNya dari maut,
dan karena kesalehanNya ia telah
didengarkan” (Ibrahim 5:7). Ini adalah nubuatan dan
keterangan tentang kejadian
yang sebenarnya. Nubuatan ini
membenarkan ayat dalam Amsal
seperti berikut: “Takut akan
TUHAN memperpanjang umur, tetapi
tahun-tahun orang fasik
diperpendek” (Amsal 10:27).
Nubuatan ini tidak dapat menjadi
genap kecuali kita mengakui
bahwa Yesus telah diturunkan dari tiang salib dalam keadaan
hidup. Adalah disebabkan kabar
suka ini Yesus tetap tenang-
tenang saja sampai saat-saat
terakhir, karena dia yakin tidak
akan mati di tiang salib dia mengadu: “Tuhanku, mengapa
Kau tinggalkan daku.” Dia
mengingatkan Tuhan akan
janjiNya; karena Allah selalu
memenuhi janjiNya, maka
menyelamatkan Almasih dari kematian di atas tiang salib.
Orang melihat dia dalam keadaan
tidak sadar maka dikira mati, lalu
dia diturunkan. Ketujuh: Dari Injil
dapat kita
ketahui bahwa Allah telah menyediakan sarana-sarana luar
biasa demi menyelamatkan Yesus
dari cengkeraman maut. Di
antaranya ada kejadian-kejadian
ajaib digambarkan dalam kitab-
kitab Injil. Satu diantaranya Tuhan telah memperlihatkan
mimpi kepada isteri Pilatus, lalu
dia memberitahukan kepada
suaminya: “Jangan engkau
campuri
perkara orang benar itu, sebab karena Dia aku sangat menderita
mimpi tadi malam” (Matius 27:19).
Tampak di sini, Allah
mengkehendaki supaya Almasih
diselamatkan dari maut. Siapa
yang bisa membendung iradah Illahi. Kedelapan: Injil Matius
menerangkan bahwa Almasih itu
gembala Bani Irael. “Dari
padamulah akan bangkit
seorang pemimpin, yang akan
menggembalakan umatKu Israel” (Matius 2:6). Almasih juga
mengatakan: “Aku diutus hanya
kepada
domba-domba yang hilang dari
umat Israel” (Matius 15;24).
Ketika Almasih datang orang- orang suku-suku Yahudi
tersebar di mana-mana, di luar
tanah airnya, dan “domba-
domba keluarga Israel telah
hilang”. Adalah kenyataan orang-
orang Yahudi itu tersebar dari India sampai ke Ethiopia:
“Pada waktu juga dipanggillah
pada panitera raja, dalam bulan
yang ketiga – yakni bulan Siwan
– pada tanggal dua puluh tiga,
dan sesuai dengan segala yang diperintahkan Mordekhai
dituliskan surat kepada orang
Yahudi, dan kepada para wakil
pemerintah, para bupati dan
para pembesar daerah, dari India
sampai ke Ethiopia, seratus dua puluh tujuh daerah, kepada tiap-
tiap daerah menurut tulisannya
dan kepada tiap-tiap bangsa
menurut bahasanya, dan juga
kepada orang-orang Yahudi
menurut tulisan dan bahasanya (Ester 8:9). Kalau saja kita terima
bahwa
Yesus mati di atas tiang salib
dalam umur tiga puluh tiga tahun
dan selesai masalahnya, berarti
bahwa misinya sia-sia (naudzubillah). Yang benar adalah,
Yesus telah diturunkan
dari tiang salib dalam keadaan
hidup dan dia menyampaikan
pesan-pesan kepada berbagai
suku di mana-mana. Kesembilan: Almasih, seraya
mencela orang-orang Yahudi,
mengatakan: “Supaya kamu
menanggung
akibat penumpahan darah orang
yang tidak bersalah mulai dari Habel, orang benar itu, sampai
kepada Zakaria anak Berekhya,
yang kamu bunuh di antara
tempat kudus dan mezbah
”(Matius 23:55). Sekiranya Yesus
juga dibunuh di atas kayu salib oleh Yahudi dan
darahnya juga mengalir, niscaya
dia disebut dan dijadikan kata
pemutus. Tetapi, dengan tidak
menyebut hal itu, Yesus memang
tidak bakal mungkin dibunuh oleh orang-orang Yahudi di atas tiang
salib. Menyebut darahnya sendiri
seharusnya diutamakannya.
Kesepuluh: Di dalam kitab-kitab
Injil yang kecil banyak
dikemukakan adalah kata-kata Almasih tentang penderitaan-
penderitaannya. Sebelum
kejadian itu terjadi dia
mengatakan: * “Elia sudah
datang, tetapi orang
tidak mengenai dia, dan memperlakukannya menurut
kehendak mereka. Demikian juga
Anak Manusia akan menderita
oleh mereka (Matius 17:12). * “
Sebab sama seperti kilat
memancar dari ujung langit yang satu ke ujung langit yang lain,
demikian pulalah halnya kelak
Anak Manusia pada hari
kedatanganNya. Tetapi Ia harus
menanggung banyak penderitaan
dahulu dan ditolak oleh angkatan ini” (Lukas 17:24,25).
* “Aku sangat rindu makan
Paskah ini bersama-sama dengan
kamu, sebelum Aku
menderita” (Lukas 22:15).
Sesudah kejadian peristiwa salib, dia mengatakan: “Hai kamu
orang bodoh, betapa lambannya
hatimu, sehingga kamu tidak
percaya atas segala sesuatu,
yang telah dikatakan para nabi!
Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk
masuk ke dalam kemuliaan-Nya?
(Lukas 24:25,26). Dari kata-kata
yang jelas di atas
menjadi jelas seterang matahari
bahwa Almasih hanya harus memikul penderitaan; sesudah itu
akan memperoleh keselamatan,
dan tak akan mengalami maut di
tiang salib. Sebutan tentang
kematian dan pembunuhan lebih
bersifat kutipan-kutipan. Adapun kata mati yang tersebut dalam
berbagai riwayat dikemukakan
secara berlebih-lebihan. Kedua
keterangan dapat diterapkan
begini: memikul penderitaan yang
keras disebut juga sebagai maut. Paulus mengatakan: “Saudara-
saudara, tiap-tiap hari
aku berhadapan dengan maut.
Demi kebanggaanku akan kamu
dalam Kristus Yesus, Tuhan kita,
aku katakan, bahwa hal ini benar” (I Korintus 15:31). Sepuluh
dalil tersebut di atas
jelas-jelas menunjukkan bahwa
Almasih tidak mati di kayu salib.
Peristiwa salib sebenarnya ialah
orang-orang Yahudi telah berusaha membunuh Almasih. Ia
dibawa ke hadapan pengadilan
Pemerintah Romawi. Oleh karena
penguasa wilayah (gubernur),
yaitu Pilatus, melihat Yesus tidak
bersalah apa-apa, lalu memutuskan untuk
membebaskannya. Kaum Yahudi
yang sangat besar pengaruhnya
dan kekuatannya terhadap pihak
penguasa mengangkat suara
yang bernada mengancam: “Jika engkau membebaskan Dia,
engaku bukanlah sahabat Kaisar.
Setiap orang yang menganggap
dirinya sebagai raja, ia melawan
kaisar.” (Yohanes 19:12). Pilatus
ketakutan. Dia membuktikan sikap pengecut dan
akhirnya menyerah seraya
mengatakan: “Aku tidak bersalah
terhadap
darah orang ini; itu urusan kamu
sendiri” (Matius 27:24). Ia menyerahkan Yesus untuk
disalib dengan kehendak orang-
orang Yahudi. Di dalam hati
Pilatus ingin menyelamatkan
Yesus. Untuk itu dia dalam diam-
diam mengadakan cara dan upaya-upaya, satu di antaranya
menetapkan agar hari Jumaat
ditentukan untuk menaikkan
Almasih ke kayu salib. Hari
esoknya adalah hari Sabtu, hari
khusus ibadat Sabat Yahudi. Untuk hari itu, orang-orang
Yahudi harus mengadakan
persiapan-persiapan yang cukup
memadai. Waktu perlaksanaannya
juga diulur-ulurnya hingga
tengah hari; hanya tiga jam saja (Injil Yohanes). Waktu selama itu
pasti tidak cukup untuk mati di
kayu salib gaya masa purba itu.
Seorang dokter Eropah terkenal,
dr. Dermond Robinson, menulis:
“Orang yang disalib masa itu umumnya memerlukan waktu
antara dua puluh empat sampai
dua puluh delapan jam untuk
mati” (Risalah “DAWN”, 16 Mei
1927 dan “Tafsir Injil Yohanes”
Cetakan Kairo, halaman 785). Menurut hukum (syariat) Yahudi
seorang terhukum tidak boleh
dibiarkan menggantung di tiang
salib setelah matahari terbenam.
Karena itu orang-orang Yahudi
sendiri meminta izin agar Almasih diturunkan dari kayu salib,
selepas tiga jam digantung. Lalu
dia diturunkan. Kaki dua orang
penyamun (yang
disalib bersama Yesus) dipatah-
patahkan supaya mati, tetapi kaki Yesus tidak diapa-apakan
oleh anak buah Pilatus. Malahan
mereka menyatakan dia sudah
mati. Pilatus yang telah
bersepakat dengan Yusuf
Arimatea (murid tersembunyi Yesus) memanggilnya dan
menyerahkan Yesus kepadanya.
Dengan bantuan Nicodemus, Yusuf
Arimatea mengobati luka-
luka Yesus dengan obat-obatan
dan rempah-rempah yang sudah diproses sebelumnya hingga
akhirnya dia siuman atau sadar
kembali. Luka-lukanya diobati
dengan ramuan yang disebut
“Marham Isa” sampai sekarang
yang kita baca dalam buku-buku obat-obatan kuno. Dengan
demikian Pilatus berhasil “cuci
tangan” (melepas
tanggungjawab) demikian rupa
hingga tidak saja Yesus
diselamatkan dari kematian disalib juga orang-orang Yahudi
tidak dapat mengadukan Pilatus
kepada Kaisar. Mereka mengira
Yesus telah mati lalu mengatakan
bahwa mereka telah berhasil
membunuh Yesus dan membuat pengakuan bahwa risalah dari
Tuhan gagal total. Murid-murid
Almasih sendiri melarikan diri lebih
dulu, tidak sanggup menghadapi
orang-orang Yahudi. Bahkan
mereka juga tunduk dan menerima apa juga yang
dikatakan orang-orang Yahudi
itu. Mereka juga mengatakan
Yesus telah mati terbunuh di
tiang salib. Namun, dia berhasil
bangkit dari tengah orang-orang mati dan sekarang hidup. Untuk
menyembunyikan kelemahan
mereka dan karena tidak dapat
membuktikan bahwa Yesus masih
hidup, mereka mulai mengatakan
dia telah naik ke langit. Mereka mengakui Yesus yang bersih dan
tak bersalah itu mati terkutuk.
Ini semata-mata dikarenakan
kelemahan iman orang-orang
Kristen permulaan dan kepolosan
mereka yang terkenal itu. Boleh jadi khayalan Yesus naik ke
langit itu diciptakan seseorang
yang cerdik untuk mengalihkan
perhatian orang-orang Yahudi
dan ini kemudian dijadikan
sebagai akidah. Singkatnya, orang-orang Yahudi
dan Kristen tetap dalam keadaan
ini hingga Nabi Muhammad s.a.w.
datang dengan bantuan Roh Suci
membawa kebenaran ke dunia.
Dengan keberkatan wahyu Illahi beliau mengusir awan kejahilan.
Beliau membersihkan Almasih dari
kutukan Yahudi dan Kristen
secara terbuka dan menyatakan:
“Sesungguhnya orang-orang
yang berselisih paham tentang pembunuhan Isa benar-benar
dalam keragu-raguan tentang
yang dibunuh itu. Mereka tidak
mempunyai keyakinan tentang
siapa yang dibunuh itu, kecuali
mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak pula yakin bahwa
yang mereka bunuh itu adalah
Isa. Tetapi yang sebenarnya Allah
telah mengangkat Isa kepada-
Nya. Dan adalah Allah Maha
Perkasa lagi Maha Bijaksana” (Qur’an 4:157, 158).
Jangan hendaknya ada orang
Kristen yang melihat kebenaran
nyata ini dengan menganggapnya
aneh. Kebenaran ini sejalan
dengan akal dan dibuktikan oleh kesaksian. Kebenaran ini menjamin
kehormatan Yesus dan
menggenapi nubuatan-nubuatan
dalam Kitab Suci. Di dunia
kejadian-kejadian pingsan seperti
itu sering terjadi, dan senantiasa membuat kita keliru menyangka
mati. Bibel sendiri mengatakan:
“Tetapi datanglah orang-orang
Yahudi dari Antiokhia dan Ikonium
dan mereka membujuk orang
banyak itu memihak mereka. Lalu mereka melempari Paulus dengan
batu dan menyeretnya ke luar
kota, karena mereka
menyangka, bahwa ia telah mati.
Akan tetapi ketika murid-murid
itu berdiri mengelilingi dia, bangkitlah ia lalu masuk ke dalam
kota. Keesokan harinya
berangkatlah ia bersama-sama
dengan Barnabas ke
Derbe” (kisah Para Rasul
14:19-20).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar